Wednesday, March 21, 2012

KLONING ditinjau AGAMA BUDDHA



oleh : Dr.Arya Tjahjadi,DSA

Awal bulan Maret 1997 lalu, dunia kembali dihangatkan oleh isyu kloning. Malah, tak berlebihan bila dikatakan isyu ini menggegerkan dunia. Betapa tidak, bila kloning (pada manusia) kelak berhasil dilaksanakan maka seluruh peradaban manusia akan berubah secara sangat dramatis. Bagaimana pandangan agama Buddha?.

MENGAPA GEGER?
Usaha kloning sebenarnya bukan usaha baru. Sejak bertahun-tahun para sarjana terus meneliti kemungkinan membuat satu individu baru tanpa harus mempertemukan unsur jantan (spermatozoa) dengan unsur betina (ovum). Masing-masing sarjana di beberapa institut riset mengembangkan metodanya masing-masing. Masing-masing dengan "sepotong" keberhasilan yang kemudian mengilhami penelitian lainnya lagi. Dalam penelitiannya, sarjana Ian Wilmut dari Roslin Institute di Edinburgh - Inggeris, menggunakan tiga ekor domba betina. Domba pertama digunakan DNA-nya, yang diambil dari satu sel ambing-nya (kelenjar susu); domba kedua digunakan sel telur-nya (ovum), setelah membuang DNA-nya terlebih dahulu. Sel berisi DNA (dari domba pertama) lalu didekatkan dengan ovum tanpa DNA (dari domba kedua) seperti dua busa sabun yang ditempelkan satu sama lain. Dengan kejutan listrik (yang mirip dengan kejutan listrik yang terjadi pada pembuahan alami) sel ovum ini ternyata menerima DNA dari domba pertama. Ternyata lagi, ovum yang sudah "dibuahi" ini berkemampuan membelah diri berkembang menjadi emrio. Lalu terakhir, embrio ini dimasukkan ke kandungan domba yang ke tiga. Setelah sekian bulan, lahirlah "Dolly" - mammalia pertama yang dilahirkan tanpa ayah
(dalam arti sesungguhnya). Untuk diketahui DNA adalah bagian dari inti sel yang berisi "informasi" atau "blue print" tentang bagaimana model - fisik dan mental - dari individu yang akan dihasilkan. Walau, keberhasilan diatas bukanlah kloning murni karena melibatkan tiga individu (domba), namun yang istimewa dari keberhasilan Ian Wilmut dan kawan-kawannya adalah bahwa ketiga-tiganya dalah domba betina, dan sel yang diambil adalah sel dewasa. Untuk diketahui penelitian sebelumnya, diantaranya Jerry Hall dari Amerika Serikat di tahun 1993, menggunakan sel embrio - sel yang memang diketahui bisa membelahdiri dan berkembang menjadi satu individu utuh. Sedangkan Ian Wilmut menggunakan sel dewasa (dari domba dewasa) tapi ternyata bisa menjadi domba utuh. Sebelumnya, dikatakan bahwa satu sel dewasa hanya bisa berkembang menjadi sel serupa. Sel otak menjadi sel otak, sel tulang menjadi sel tulang dan seterusnya. Dalam kasus "Dolly", sel ambing (kelenjar susu) ternyata mempunyai kemampuan menjadi domba utuh - Si Dolly. Penelitian Ian Wilmut, tampaknya akan menjadi pelopor dalam penelitian yang akan menghasilkan kloning murni, yakni individu yang dihasilkan dari satu individu dewasa. Lembaga perkawinan sebagai lembaga yang bertujuan untuk menghasilkan keturunan dengan sendirinya terancam. Peradaban manusia akan berubah sama sekali. Pantas geger!

KAPAN GILIRAN MANUSIA?.
Sarjana Ian Wilmut berkeyakinan bahwa kloning terhadap manusia sudah bisa dikembangkan dalam dua tahun kemudian, namun secara resmi usaha penelitian kloning pada manusia secara resmi dilarang oleh hukum dan kode etik kedokteran. Kloning terhadap anak manusia yang terjadi di Belgia di klem terjadi karena "ketidak sengajaan" di laboratorium. Para pimpinan negara dan agama terkemuka memang terpaksa mengambil sikap. Bill Clinton, diantaranya, meminta dewannya untuk memberinya masukan dalam 90 hari. Akankah semua itu membendung usaha para ilmuwan untuk menghentikan penelitian mereka?. Rasanya tidak. Selain naluri keingintahuan manusia terutama para ilmuwan adalah alami, juga apa yang bisa dibendung? Dana? Juga tidak, karena didunia ini masih banyak orang kaya "gila" yang akan merelakan "recehannya" untuk membuat fotokopi dirinya; mungkin untuk sekedar sensasi atau memang untuk menjaga kelanjutan perusahaannya dan juga bisa menjaga dirinya dikemudian hari. Di abad-abad mendatang, tidak akan kurang kaum selebriti sekelas Madonna (maaf pada Ms. Madonna), yang tentunya akan lebih suka bila anaknya adalah bagian (atau produk) murni darinya - tidak "tercemar" sifat dari pasangan pria yang diturunkan pada pembuahan alami. Apalagi memang dari laki-laki yang tidak pernah dicintainya. Disaat kemampuan memanggungnya sudah pudar karena ketuaan, maka dia akan menampilkan anak-fotokopiannya yang kemudian bisa melanjutkan usahanya, juga kelak mewarisi kekayaannya. Soal hukum? Walau negara kuat dan kaya katakanlah melarang kloning, tapi bukankah di dunia saat ini juga tidak kurang negara miskin yang akan sangat "welcome" kepada para ilmuwan, asalkan mereka datang dengan dana dari sponsornya. Mereka akan sediakan tempat dan perlindungan. Persoalannya sekarang, akankah usaha "fotokopi" manusia itu berhasil?. Bagaimana pandangan agama Buddha? Benturankah dengan Dhamma?

BIJA NIYAMA DAN KAMMA NIYAMA?
Dari sudut pandang buddhis, maka kita percaya bahwa tidak ada kekuatan yang bisa melawan hukum-hukum Dhamma - hukum alam yang "mengatur" semesta ini. Selama ini kita hanya bisa hidup dengan menyelaraskan diri dengan hukum alam. Kita, misalnya, hanya bisa bernapas dengan menghirup udara, karenanya harus menggunakan tabung oksigen di dalam laut. Kita minum air tawar - bukan air asin; kalau tidak air tawar, maka kita hanya bisa berusaha menawarkan air asin, dan sebagainya. Ada dua kategori hukum alam yang terkait dalama masalah kloning, yakni Bija Niyama (hukum-hukum biologis) dan Kamma Niyama (hukum karma). Dari sudut Bija Niyama, terbukti, sebenarnya apa yang dilakukan oleh para sarjana selama ini, hanyalah sekedar mempelajari hukum alam (dalam hal ini proses alami pembuahan) lalu mencontohi dan menerapkannya (dalam hal ini memberi kejutan listrik dan mengkondisikan "pembuahan" - masuknya DNA ke sel ovum). Nah, sampai disini kita tidak usah kwatir, sebab bila tidak sejalan dengan hukum alam, maka tidak akan berhasil (dalam istilah agama lain : "Bila tidak dikehendaki Tuhan"). Dalam kasus Dolly, terbukti para sarjana masih sangat meragukan kelangsungan hidup Dolly. Secara biologis, Dolly yang baru dilahirkan sebenarnya telah berumur 6 tahun, karena DNA-nya diambil dari sel yang telah berumur 6 tahun (domba induk yang di"fotokopi" telah berumur 6 tahun). Terbukti hukum alam Anicca turut "menghadangnya". Belum lagi, telah terbukti bahwa hasil kloning biasanya peka terhadap perubahan lingkungan dan cepat mati. Terbukti, embrio manusia hasil kloning Jerry Hall diatas hanya berumur beberapa hari dan tidak sampai menjadi jabang bayi. Apa gunanya usaha kloning bila hanya untuk menghasilkan makhluk berumur pendek - mengalami penuaan dini dan berpenyakitan. Saat ini pun para ilmuwan masih "wait and see" pada nasib Dolly. Dari sudut Kamma Niyama, diketahui bahwa kelahiran kembali dikondisikan oleh Tanha (keinginan yang sangat kuat) dalam hal ini Kamma Tanha (keinginan kuat akan kenikmatan nafsu) dan Bhava Tanha (keinginan kuat untuk senantiasa bereksis). Keinginan kuat ini berbentuk arus enerji batin yang sangat kuat yang lalu mencari "wadah" (badan) untuk bereksis (baca: lahir kembali). Enerji batin yang luar biasa ini adalah unsur utama kelahiran; unsur biologis yang menyediakan "wadah" adalah unsur berikutnya, tanpa harus memperhitungkan bagaimana unsur biologis itu dipersiapkan oleh alam. Lalu, bagaimana (perjalanan) karma dari mereka yang adalah hasil "fotokopi" dengan "asli"nya, atau apalagi kalau "fotokopi"nya dibuat banyak. Vinnana (kesadaran / "jiwa" terlahir kembali) mana yang asli?. Apakah vinnana juga turut "berfotokopi"? Penjelasannya sangat sederhana. Di alam ini tidak ada makhluk yang persis sama. Sebenarnya hasil kloning tidak mungkin pernah sama. Walau "blue print" (DNA) sama, tapi pengalaman-pengalaman yang akan di alami tidak mungkin sama. Disekitar kita saja, banyak kembar identik (berwajah sama, bersifat sama) yang terlahir dari satu zygote (calon embrio hasil pembuahan alami) yang membelah menjadi dua. Mereka sebenarnya justru adalah kloning alami, tapi bukankah para kembar identik di masyarakat kita perjalanan nasibya (baca: karmanya) akan berbeda. Jadi, jelas mereka berasal dari vinnana yang berbeda. Kedekatan kondisi atau keakraban mereka satu sama lain di alam kehidupan yang sebelumnya mengkondisikan mereka terlahir di kandungan yang sama. Kondisi (sankhara) termasuk pengalaman-pengalaman hidupnya (yang dalam bahasa buddhis adalah bersangkutan dengan karma-nya) akan berbeda sejak dimulainya pembelahan sel (yang kemudian akan membentuk makhluk utuh). Tempat "nidasi" (tempat embrio melekat di kandungan ibu) dari dua kembar identik, sudah pasti akan berbeda. Dan, ternyata nutrisi yang diterima oleh jabang bayi di dalam kandungan tergantung pada lokasi nidasi ini. Nutrisi yang berbeda menyebabkan pula perbedaan besar dan sehatnya bayi yang lahir kemudian. Lalu, setelah lahir pengalaman hidupnya pasti akan berbeda. Dengan demikian Kamma Niyama (hukum karma) berjalan terus. Tidak ada benturan dengan Dhamma. Dhamma adalah hukum alam, hukum alam tidak bisa dilawan.

BOLEH ATAU TIDAK BOLEH?
Hanya beberapa hari setelah publikasi hasil penelitian ini, reaksi bermunculan dari yang menyambutnya gembira sampai yang menyambut dengan rasa amarah pada para ilmuwan. "Para ilmuwan sudah gila", kata mereka. Padahal ilmuwan bukanlah kaum kriminal. Sebaliknya, memang banyak keuntungan yang dapat diperoleh dari teknik kloning ini. Para peternak tinggal mengkopi ternaknya yang paling unggul, obat-obatan biologis (non sintesis) misalnya enzym bisa jauh lebih murah karena di produksi secara massal oleh ternak yang memang sudah "diprogram" untuk itu. Binatang langka seperti panda bisa digandakan. Masalahnya bagaimana agar tidak terjadi penyalahgunaan teknologi ini. Pisau dapur ditangan pembunuh atau ditangan ibu rumah tangga?. Mereka yang skeptis melontarkan andai-andai, bayangkan bila Hitler bisa di kloning, satu Hitler saja sudah memporakporandakan dunia. Apalagi kalau di fotokopi banyak-banyak. Terlepas dari setuju atau tidak setuju, maka sebenarnya kekwatiran akan "kelahiran Hitler" seperti diatas tidaklah berdasar dengan pemahaman dalil-dalil karma diatas. Sifat genetis (bawaan) bukanlah satu-satunya yang menentukan seseorang akan jadi jahat atau baik. Bila katakanlah Hitler berhasil dikloning menjadi dua. Satunya lalu tetap di Jerman bersekolah dilingkungan yang menanamkan paham Uber Alles, tapi kembar satunya, katakanlah, berteman dengan calon Bhante Nyanatiloka (bhikkhu berkebangsaan Jerman pertama yang belajar, menetap dan meninggal di Sri Lanka awal 1990-an), lalu sama-sama menjadi bhikkhu di Sri Lanka; maka mungkin Hitler satunya ini menjadi bhikkhu yang setenar Bhante Nyanatiloka. Fisik dan mental kita saat ini, selain tergantung pada "kandungan ibu" (baca: sifat genetis), maka juga tergantung pada "kandungan masyarakat" yang membesarkan kita. Jadi agama Buddha melarang atau tidak melarang kloning?. Bila ditelusuri lebih lanjut, maka istilah melarang sebenarnya tidak relevan dengan ajaran Sang Buddha. Ajaran Sang Buddha bukanlah pasal-pasal hukum dan undang-undang. Agama Buddha adalah ajaran yang mengajarkan ajaran ketuhanan - menunjukkan yang mana yang baik dan yang mana yang tidak baik - bukan ajaran yang mengajarkan "perintah Tuhan". Ajaran agama Buddha tidak mendasarkan dapat tidaknya pemberlakuan sesuatu hal pada diperkenankan atau dilarang Tuhan. Konsep melarang (atau membolehkan) adalah konsep manusiawi. Tuhan adalah sesuatu yang lebih besar, bukan makhluk - bukan pribadi. Juga bukan makhluk adikodrati ataupun mahadewa, yang dianggap sebagai penguasa alam ini. Umat Buddha juga tidak perlu kwatir bahwa usaha kloning akan melecehkan kitab suci Tipitaka. Kita tidak perlu mendasarkan keberadaan Dhamma pada kitab-kitab suci dan sabda-sabda. Dhamma adalah hukum alam. Hukum alam akan berjalan tidak tergantung pada ada atau tidaknya kitab suci Tipitaka (buat umat Buddha) ataupun pernah atau tidak pernahnya Sang Buddha terlahir. Dengan demikian, sebenarnya pertimbangan pemberlakuan sesuatu hal dalam pandangan agama Buddha adalah pada baik atau tidak baiknya hasil perbuatan itu bagi diri sendiri dan bagi diri orang lain.

BAIK ATAU TIDAK BAIK?
Nah, sekarang, menurut agama Buddha usaha kloning itu baik atau tidak baik? Jelas, pada zaman Sang Buddha tidak dikenal teknologi kloning, sebaliknya "teknologi" yang dikenal saat ini sebagai "supra natural" adalah lebih jamak. Namun, ketiadaan teknologi kloning pada zaman Sang Buddha tidak berarti kita tidak bisa menjawab pertanyaan diatas. Dalam hal ini, secara umum, kita dapat mengacu pada wejangan Sang Buddha pada para petinggi suku Kalama, sebagai berikut:
"Dengarkan, kaum Kalama, janganlah hanyut terbawa oleh ucapan seseorang atau tradisi atau desas-desus, atau karena tertulis dikitab suci, atau oleh pertimbangan: 'Pertapa itu adalah guruku....'. Tetapi, kaum Kalama, apabila kalian mengetahui sendiri bahwa hal-hal itu ... dicela oleh para bijaksana, dan bila dilakukan akan berakibat kerugian dan penderitaan, maka tolaklah hal itu. Sebaliknya, apabila kalian mengetahui sendiri bahwa hal-hal ini tidak tercela dan patut dipuji oleh para bijaksana, dan apabila dilakukan akan menghasilkan kesejahteraan dan kebahagiaan, maka lakukanlah dan binalah hal-hal itu (Kalama Sutta, Anguttara Nikaya,I)
Mari kita teliti bersama:
1. Dicela atau dipuji oleh para bijaksana ?
Dalam pandangan Buddhis, suatu perbuatan dikatakan terpuji adalah bila perbuatan itu terbebas dari tiga akar kejahatan, lobha (keserakahan), moha (ketidaktahuan) dan dosa (kebencian) serta berdampak positif secara universal. Bebas dari lobha, moha dan dosa? Jelas tidak, usaha kloning jelas bakal lebih banyak memelihara dan memuaskan lobha (keserakahan), moha (ketidaktahuan) dan dosa (kebencian). Korban-korban lobha, moha dan dosa akan bertambah. Sebab, seperti dikatakan diatas hukum alam akan tetap berjalan terus, mereka yang memelihara lobha akan terlindas oleh hukum alam dalam bentuk kemelekatan. Semuanya akan menjauhkan seseorang dari pencapaian Nibbana. Berdampak positif secara universal? Juga tidak! Universal berarti berlaku bagi siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Katakanlah, teoritis, tujuan kloning adalah baik; tapi siapa bisa meredam efek sampingnya. Sewaktu Einstein menemukan atom, beliau juga tidak menduga bahwa penemuannya kemudian akan menghasilkan dua bom yang membinasakan dua kota besar di Jepang - Hiroshima dan Nagasaki. Selama sejarah peradaban manusia, telah sering terjadi penemuan yang kemudian akan menjadi "pisau dapur di tangan pembunuh".
2. Akankah membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bersama?
Bagi mereka yang memerlukan kloning-nya mungkin membahagiakan sementara. Ambil saja contoh seperti diatas, bagi seorang artis agar kloningnya bisa menggantikan (di-regenerasi) sebelum dia terlalu tua (untuk manggung) padahal masih populer, atau bagi seorang milyarder - yang memerlukan seorang yang akan meneruskan usahanya (dengan gaya kepemimpinan dan cara berpikir yang sama - yang terbukti berhasil) yang sekaligus akan mewarisi perusahaannya. Mungkin bagi mereka membahagiakan sementara (lalu terjerat dan tersiksa Lobha), tapi bagaimana dengan segala dampak yang merugikan orang lain terutama pada peradaban manusia secara keseluruhan. Usaha kloning bisa saja menjadi pemicu "perang" antara kaum pria dan wanita. Pasangan suami isteri tidak lagi memiliki sesuatu yang adalah milik bersama yaitu anak kandung yang bisa merupakan tumpuan kasih mereka berdua. Suami atau isteri (bila kloning atas pria juga bisa) akan berkata: "Dia anakmu, bukan anakku". Kebersamaan adalah segala nilai kehidupan berkeluarga. Hancurnya kebersamaan dalam berkeluarga berarti hancurnya konsep kehidupan berkeluarga, dan berakhir dengan hancurnya peradaban manusia.
Singkatnya usaha kloning adalah usaha yang belum diperlukan, lebih mungkin berdampak negatif, dan dengan sendirinya dapat direkomendasikan untuk tidak dilakukan. Tapi sebenarnya kita terlalu banyak berandai-andai padahal hukum alam yang akan menyelesaikannya. Sebenarnya bagi umat Buddha, dari pada meributkan soal kloning, maka lebih baik mencari pojok yang sepi lalu duduk bermeditasi. Ajaran Sang Buddha sejak awal memang hanya menunjukkan yang baik dan yang tidak baik. Selanjutnya, terserah Anda!

No comments:

Post a Comment