Tuesday, October 16, 2018

KEYAKINAN YANG BENAR MENURUT AGAMA BUDDHA



Dalam 
agama Buddha, keyakinan dalam bahasa Pali yaitu Saddha, sedangkan dalam bahasa Sanskerta yaitu sraddha yang bukan berarti kepercayaan yang membabi buta atau asal percaya saja, akan tetapi suatu keyakinan yang didasarkan pada pengertian yang muncul karena bertanya, menyelidiki, dan mengacu kepada komitmen tulus untuk mempraktikkan ajaran Buddha dan percaya dengan para makhluk yang telah maju dalam pelatihan diri, seperti para Buddha atau bodhisatva yang memberikan aspirasi untuk mencapai pencerahan sebagai makhluk suci (arahat), keragu-raguan juga perlu dilenyapkan dengan keyakinan terhadap kebenaran realitas dunia ini (Dharma).

Keyakinan sangat penting bagi kita karena dapat mendorong kita untuk membuktikan sendiri ajaran Buddha. Dilukiskan oleh Nagarjuna bahwa keyakinan mendahului pemahaman karena tanpa keyakinan bagaimana bisa memahami. Namun, keyakinan dalam agama Buddha bukan sekedar keyakinan terhadap suatu makhluk tertinggi yang akan menyelamatkan kita jika meyakininya. Keyakinan itu muncul karena pengertian, maka keyakinan umat Buddha pada sesuatu yang diyakini adalah tidak sama kualitasnya. Tidak ada pengertian yang sama dari orang yang berbeda-beda, akibatnya kualitas keyakinan setiap individu berbeda. Umat Buddha umumnya mengakui beberapa objek keyakinan, namun beberapa umat Buddha secara khusus membaktikan diri kepada tokoh tertentu. Keyakinan tak hanya bakti kepada seseorang, namun bakti muncul karena ada hubungan dengan konsep ajaran Buddha seperti efikasi karma dan kemungkinan pencerahan.


Rumusan Masalah

1.      Apa saja keyakinan / saddha tersebut?

2.      Apa saja ciri ciri keyakinan dalam Buddhis?

3.      Apa saja keyakinan dalam sudut pandang Buddhis?


Penutun Tujuan Observasi

Memperkuat keyakinan terhadap tiratana agar tidak akan memiliki keragu-raguan pada agama Buddha. Sebab telah memiliki pandangan yang benar dan telah dinyatakan dalam dhamma dapat di buktikan secara langsung. Sesorang yang memiliki keyakinan Tiratana ketika mempraktikan sila (kemoralan), Samadhi (konsentrasi) dan Panna (kebijaksanaan) akan menjadi benar, tepat, dan juga bersemangat hingga tercapainya akhir penderitaan.

Keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Agama Buddha adalah religi humanistik, berpusat pada diri sendiri dengan segala kekuatannya yang dapat di kembangkan hingga mencapai kesempurnaan. Berbeda dengan erligi otoriter, yang menghendaki penyerahan kepasrahan dan ketergantungan terhadap kekuatan di luar manusia.


Keyakinan terhadap Triratna

Umat Buddha menjadikan Tiratana sebagai keyakinan untuk mendorong diri mengakhiri penderitaan. Tiratana terdiri dari Buddha Ratana, Dhamma Ratana, dan Saṅgha Ratana. Keyakinan ini diperoleh dari memahami kualitas atau sifat-sifat luhur dari Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. Kita dapat menemukan kualitas itu dengan menghayati yang ada pada Buddhānusati, Dhammānusati, dan Saṅghānusati. Seperti Buddhānusati terdapat sembilan kualitas luhur dari Buddha, Dhammānusati terdapat enam kualitas luhur dari Dhamma, dan Saṅghānusati terdapat sembilan kualitas luhur dari Sangha.


Keyakinan terhadap Bodhisatva, Arahat, dan Dewa
Buddha adalah orang yang mencapai kesadaran sempurna atau kesucian tertinggi dengan usaha sendiri tanpa bantuan dan mengajarkan Dhamma ajarannya kepada semua umat manusia. Sedangkan Arahat adalah orang yang telah mencapai kesucian batin tertinggi dengan mengikuti ajaran Buddha. Dan Bodhisattva adalah orang yang telah bertekad untuk mencapai tingkat kesucian.


Keyakinan terhadap Nibbana

Nibbana bukan suatu tempat ataupun semacam surga dimana roh kekal berada. Nibbana adalah suatu keadaan yang bergantung pada diri kita sendiri yang merupakan suatu pencapaian (Dhamma) yang berada dalam jangkauan semua orang dan suatu keadaan di atas keduniawian (lokuttara) yang dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini juga. Agama Buddha tidak mengajarkan bahwa tujuan akhir ini hanya dapat dicapai dalam kehidupan di alam lain.


Dalam Kitab Udana VIII : 3, Nibbana dijelaskan oleh Buddha sebagai berikut:

"Oh, Bhikkhu, ada berhentinya kelahiran, berhentinya penjelmaan, berhentinya Kamma, berhentinya Sankhara. Jika seandainya saja, Oh bhikkhu, tidak ada berhentinya kelahiran, berhentinya penjelmaan, berhentinya Kamma, berhentinya Sankhara; maka tidak akan ada jalan keluar kebebasan kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi karena ada berhentinya kelahiran, berhentinya penjelmaan, berhentinya Kamma, berhentinya Sankhara, maka ada jalan keluar kebebasan kelahiran, penjelmaan, pembentukan, dan pemunculan dari sebab yang lalu".


Keyakinan terhadap Kitab Suci

Ajaran agama Buddha bersumber pada kitab Tripitaka yang merupakan kumpulan kotbah, keterangan, perumpangan, dan percakapan yang pernah di laksanakan oleh Sang Buddha dengan para siswa dan pengikutnya. Isi kitab tersebut semuanya tidak berasal dari kata-kata sang Buddha sendiri, tetapi dari para siswanya karena siswanya adalah sumber ajaran tersebut yang menjadi tiga kelompok besar yang di kenal dengan “Pitaka” yaitu Sutta Pitaka, Winaya Pitaka, dan Abdhidhamma Pitaka.


Keyakinan terhadap Empat Kesunyataan Mulia

Empat Kesunyataan Mulia dalam bahasa pali ialah Cattari AriyaSaccani yang berarti kebenaran yang berlaku bagi siapa saja tanpa membeda-bedakan suku, ras, budaya, maupun agama. Mengakui atau tidak mengakui, suka atau tidak suka, setiap manusia mengalami dan diliputi oleh hukum kebenaran ini.

Empat Kebenaran Mulia ditemukan oleh Pertapa Siddhartha yang bermeditasi di bawah Pohon Bodhi hingga memperoleh Penerangan Sempurna dan menjadi Buddha. Empat Kebenaran Mulia yang ditemukan itu diajarkan oleh Buddha Gotama kepada umat manusia di Bumi ini. Muncul ataupun tidak muncul seorang Buddha di dunia ini, kebenaran itu akan tetap ada dan berlaku secara universal.

Empat Kebenaran itu adalah:

1.      Kebenaran tentang adanya Dukkha (Dukkha)
2.      Kebenaran tentang sebab Dukkha (Dukkha Samudaya)
3.      Kebenaran tentang lenyapnya Dukkha (Dukkha Niroda)
4.      Kebenaran tentang jalan berunsur 8 menuju akhir Dukkha (Dukkha Nirodha Gamini Patipada Magga)
Keyakinan dalam sudut pandang Buddhis

Saddha merupakan salah satu dari lima hal yang menghasilkan dua hal yang berbeda, yaitu menghasilkan hal yang benar atau hal yang salah. Dengan kata lain sesuatu yang di terim berdasarkn saddha yang nantinya bisa benar atau salah yang merupakan fakta atau sebaliknya. Maka dari itu, tidak selayaknya bagi seorang bijaksana melestarikan atau menjaga kebenaran untuk menyimpulkan secara pasti apa yang di terimanya melalui saddha tersebut dengan mengatakan “Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah”, hingga ia membuktikan kebenarannya dan berhak untuk menyatakan “Demikianlah keyakinan saya”

Objek keyakinan dalam agama Buddha ada tiga, yaitu:

1.        Buddha

2.        Dharma

3.        Sangha


Perlu diingat bahwa keyakinan terhadap Buddha, Dharma maupun Sangha bukanlah keyakinan terhadap bentuk objeknya, seperti patung, kitab suci, atau biksu. Namun, keyakinan yang benar adalah keyakinan terhadap makna dibalik simbol tersebut, seperti keyakina terhadap Buddha mewakili keyakinan terhadap seorang guru (Buddha) yang perlu diteladani. Beliau mencontohkan bagaimana perilaku-perilaku yang baik (sila), ucapan yang bermanfaat, pikiran yang positif. Keyakinan terhadap Dharma juga bukanlah keyakinan buta terhadap ajaran yang tertulis dalam kitab suci. Keyakinan terhadap Dharma adalah keyakinan terhadap ajaran Buddha yang diwujudkan melalui praktik nyata dan langsung. Keyakinan terhadap Sangha mewakili keyakinan terhadap kemampuan setiap orang untuk mencapai tahap pencerahan seperti Buddha. Keyakinan terhadap Sangha juga mempunyai makna bahwa kita perlu menyebarkan kebenaran kepada orang lain agar berada di dalam jalan pelatihan spiritual.


Ciri-ciri Keyakinan Dalam Buddhis

Seperti yang telah disebutkan, keyakinan dalam Agama Buddha mempunyai bentuk yang berbeda dengan keyakinan dalam agama lain. Ada 2 ciri keyakinan dalam buddhis, yakni:

1.        Membuka pandangan meliputi keterbukaan dan keingintahuan

2.      Praktik meliputi ritual (puja) dan pelaksanaan moralitas (sila) yang benar


Membuka pandangan adalah ciri yang membedakan keyakinan dalam buddhis dengan yang lain. Umat Buddha berkeyakinan dengan mendasarkan pikiran yang terbuka terhadap ajaran lain. Bila tidak disertai dengan keterbukaan, keyakinan dalam Agama Buddha akan sama dengan agama lain. Membuka pandangan dengan kebijaksanaa akan menghindari kefanatikan umat Buddha. Keyakinan menghindari kebijaksanaan berkembang menjadi skeptisme berlebihan yang bersumber dari ego. Jadi dalam keyakinan dibutuhkan suatu pandangan benar yang sejalan dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Pandangan benar yang akhirnya akan membuka wawasan kebijaksanaan yang murni dan tidak ternoda yang akan membawa kepada pencerahan sejati.

Pratik adalah bentuk keyakinan dalam buddhis. Praktik berdasar keyakinan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata. Bentuknya adalah implementasi ajaran Buddha dalam perbuatan, ucapan dan pikiran yang benar. Moralitas dilaksanakan sebagai wujud keyakinan. Selain itu, praktis keyakinan bisa diwujudkan melalui ritual (puja). Tentunya ritual yang dilaksanakan dilakukan dengan pemahaman yang benar. Ritual dapat meningkatkan keyakinan, namun jangan menjadi ikatan dan salah pengertian. Ritual yang baik adalah perenungan terhadap perbuatan yang dilakukan selama ini dan pengembangan pikiran penuh cinta kasih, welas asih, dan kebijaksanaan.


Kesimpulan

Dari rangkuman di atas, dapat di simpulkan bahwa keyakinan bukanlah sekedar melihat orang atau suatu objek yang dipercaya yang memiliki kekuatan tertentu, lebih dari itu pengalaman pribadi dan melihat sesuatu dengan pengamatan benar. Sehingga kesimpulan yang sesuai dengan kenyataan adalah adanya di saat ini dan mendatang yang berarti dengan melakukan perbuatan baik maka kita akan mendapatkan keyakinan. Seperti membagikan kebahagiaan dengan cara berdana kepada orang yang memerlukan, melaksanakan sila setiap saat, melatih kesabaran, menjaga pikiran dengan cara bermeditasi, dan memiliki kebijaksanaan. Jika, sseorang yang melakukan kesalahan atau menambah kekotoran batin, maka keyakinannya semakin menurun dan melalukan sesuatu yang terburu buru dengan hasil yang tidak sempurna dan tidak memuaskan.

Oleh:
Jennifer | Mahasiswi Universitas Internasional Batam (UIB)

No comments:

Post a Comment